Strategi Mengembangkan Kemampuan Berfikir Anak Juni 25, 2008
Posted by Eka Rezeki Amalia in ARTIKEL.trackback
Pengertian Berpikir
Menurut Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp (1990 : 43), berpikir adalah suatu keaktipan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang kita kehendakaki. Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti : anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Sebagai contoh, kita libat sebuah jeruk, Jeruk itu sebuah benda yang konkret. Jika kita pandang hanya warna kulit jeruk itu, maka warna isi kita lepaskan dari semua yang ada pada jeruk itu (bentuknya, rasanya, baunya, dan beratnya). Mula-mula warna itu hanya pada benda konkret yang kita hadapi dan merupakan bagian dari keutuhan yang tidak dapat kita lepaskan. Sekarang warna itu sendiri kita pandang dan kita pisahkan dari keseluruhan jeruk itu.
Menurut Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp (1990 : 44), Pengertian berpikir dalam arti luas adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi. Dalam arti sempit berpikir adalah meletakkan atau mencari hubungan atau pertalian antara abstraksi-abstraksi.
Berpikir erat hubungannya dengan daya-daya jiwa yang lain, seperti tanggapan, ingatan, pengertian dan perasaan. Tanggapan memegang peranan penting dalam berpikir, meskipun adalakalanya dapat mengganggu jalannya pikiran. Ingatan merupakan syarat-syarat yang harus ada dalam berpikir, karena memberikan pengalaman-pengalaman dan pengalaman yang telah lampau.
Pengertian meskipun merupakan hasil berpikir dapat memberi bantuan yang besar pula dalam suatu proses berpikir. Perasaan selalu menyertai pula, ia merupakan dasar yang mendukung suasana hati, atau sebagai pemberi keterangan dan ketekunan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah.
Menurut Psikologi Gestalt, berpikir merupakan keaktipan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indra kita. Proses berpikir ini dilukiskan sebagai berikut : Jika dalam diri seseorang timbul suatu masalah yang harus dipecahkan, terjadilah lebih dahulu suatu skema / bagan yang masih agak kabur-kabur. Bagan itu dipecahkan dan dibanding-bandingkan dengan seksama.
Jenis-Jenis Berpikir
Diatas telah diutarakan bahwa dalam berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari pengetahuannya, sehingga pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang dapat dikuasai atau dipahami. Dalam hal ini orang dapat mendekati masalah ini dengan beberapa cara yaitu sebagai berikut.
1) Berpikir Induktif
Berpikir Induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri atau sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena. Beberapa sebagai penjelasan : Seorang ahli psikologi mengadakan penyelidikan dengan observasi bayi A setelah melahirkan segera menangis, bayi B juga begitu, bayi C,D,E,F disebut demikian pula.
Kesimpulan : Semua bayi yang normal segera menangis pada waktu dilahirkan, seorang guru melakukan eksperimen-esperimen menanam biji-bijian bersama murid-muridnya, jagung ditanam tumbuh keatas, kacang tanah tumbuh keatas juga. Kesimpulan : “Semua batang tanaman tumbuhnya keatas mencari sinar matahari”
Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama tergantung pada representatif, dan makin besar pula taraf dapat dipercaya (validitas) dari kesimpulan itu ; dan sebaliknya. Taraf validitas kebenaran kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena-fenomena diselidiki.
2) Berpikir Deduktif
Sebaliknya dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum.
Dari situ ia menerapkannya kepada fenomena-fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan yang khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.
Contoh :
Manusia semua akan mati (kesimpulan umum)
Jamilah adalah manusia (kesimpulan khusus)
Jamilah akan mati (kesimpulan deduksi)
3) Berpikir Analogis
Analogis berarti perasaan atau perbandingan. Berpikir analogis adalah berpikir dengan jalan menyamakan atau memperbandingkan fenomena-fenomena yang biasa atau pernah dialami. Didalam cara berpikir ini, orang beranggapan bahwa dari fenomena-fenomena yang pernah dialami berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.
Kesimpulan yang diambil dari berpikir analogis ini kebenarannya lebih kurang dapat dipercaya. Kebenarannya ditentukan oleh Faktor “Kebetulan” dan bukan berdasarkan perhitungan yang tepat, dengan kata lain : Validitas kebenarannya sangat rendah.
Hasil-hasil Penyelidikan Tentang Berpikir
Beberapa pendapat dari penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh ahli-ahli Psikologi terhadap proses berpikir manusia.
a) Oswald Kuipe dengan rekan-rekannya, setelah mengadakan eksperimen-eksperimen terhadap mahasiswa yang menggunakan instropeksi-eksperimental, mendapat kesimpulan :
1. Bahwa didalam diri manusia terdapat adanya gejala-gejala psikis yang tidak dapat diragukan. Disamping kesan-kesan dan tanggapan-tanggapan yang diperoleh dengan alat indra masih ada gejala-gejala yang lebih abstrak dan tidak dapat diragukan.
2. Bahwa pada waktu berpikir, aku dan pribadi orang itu memegang peranan yang penting. Si “Aku” bukanlah faktor yang fasip, melainkan faktor yang mengemudikan semua pembuatan sadar.
3. Bahwa berpikir mempunyai arah tujuan (determine rende tendens). Arah tujuan berpikir dipengaruhi oleh masalah yang harus dipecahkan.
b) Frohn dan kawan-kawan, setelah menyelidiki bagaimana proses dan perkembangan berpikir pada anak-anak yang bisu, tuli dan membandingkan dengan anak-anak yang normal, mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Berpikir ialah bekerja dengan unsur-unsur abstrak dan bergerak kearah yang ditentnkan oleh masalah yang dihadapi.
Pada anak-anak kecil, berpikirnya dipengaruhi oleh tanggapan-tahapan yang konkret yang pernah diamatinya. Sedangkan anak-anak bisu, tuli tidak dapat menyusun pengertian karena perkembangan bahasanya terhambat.
c) Otto Selz dan Willwoll
Dalam proses berpikir mereka mengambil kesimpulan sebagai berikut:
Selz mengatakan bahwa tanggapan-tanggapan konkret tidak mempunyai pengaruh sama sekali / hanya sedikit sekali pengaruhnya dalam proses berpikir. Tanggapan konkret tidak amat melancarkan dan tidak pula amat merintangi jalannya berpikir.
Willwoll mengatakan bahwa tanggapan-tanggapan konkret dapat mengganggu dan menghambat jalannya berpikir.
Berhubungan kesimpulan Selz tersebut Prof. Kohnstam menyatakan bahwa belajar berpikir adalah mempelajari (mengenal) cara menggolong-golongkan pengalaman-pengalaman yang ada dalam jiwa.
d) Hasil penyelidikan berpikir berpengaruh besar terhadap perbaikan cara-cara mendidik dan mengajar di sekolah. Dalam mendidik dan mengajar, pendidik tidak cukup hanya mengisikan pengetahuan atau tangapan-tanggapan yang banyak ke dalam otak anak-anak. Anak harus diajar berpikir dengan baik supaya anak dapat berpikir dengan baik, kita perlu memberikan :
1. Pengetahuan siap yakni pengetahuan pasti yang sewaktu-waktu siap untuk dapat dipergunakan seperti, hafal tentang abjad.
2. Pengertian yang berisi/yang mengandung arti dan benar-benar dimengerti oleh anak.
3. Melatih kecakapan membentuk skema, yang memungkinkan berpikir secara teratur.
4. Soal-soal yang mendorong anak untuk berpikir.
Strategi untuk meningkatkan kemampuan berpikir anak
Ada beberapa strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir anak antara lain :
a. Dengan melakukan pendekatan individual
Dalam pendekatan individual perilaku anak bermacam-macam yaitu, cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasan dan sebagainya, selalu ada variasinya. Cara belajarpun berbeda-beda, masing-masing anak didik mempunyai karakteristik tersendiri.
Perbedaan individual anak didik memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pendekatan harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual.
Pada kasus yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar dapat diatasi dengan pendekatan individual misalnya: untuk menghentikan anak didik yang suka berbicara caranya dengan memisahkan atau memindahkan salah satu dari anak didik tersebut pada tempat terpisah dengan jarak yang cukup jauh anak didik yang suka berbicara di etmpatkan pada kelompok anak didik yang pendiam apabila anak didk didalam kelas suka berbicara maka anak didik yang benar-bemnar mau belajar akan terganggu.
b. Dengan melakukan pendekatan kelompok
Pendekatan kelompok perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama.
Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri anak didik. Anak didik dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada di dalam diri anak, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas.
Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerjasama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu, sebaliknya yang mempunyai kekurangan dengan kerelaan hati mau belajar dari yang mempunyai kelebihan tanpa ada rasa minder. Persaingan positifpun terjadi di kelas untuk mencapai prestasi belajar yang optimal, yang diharapkan yakni anak didik yang aktif, kreatif dan mandiri.
Misalnya : dalam bermain puzzle, ada anak yang tidak bisa menyusun puzzle dengan gambar yang utuh, maka di dalam kelompok anak didik yang berpikirnya aktif membantu teman yang tidak bisa tersebut.
c. Berpikir (reasoning)
Adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hu¬bung¬an antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir ber¬tujuan untuk mem¬bentuk pengertian, mem¬bentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses berpikir kreatif terdiri dari: persiapan, inkubasi, ilumi¬nasi, dan veri¬fikasi. Jenis berpikir ada dua, yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi. (ra2-berbagai sumber)




Assalamualaikum mbak, artikel mengembangkn brpikir anak d ats menggunakn sumber buku2 pa ya??? mhon bantuan’y ya…